| No | Istri dan suami presiden Indonesia | Menikah | Presiden | Mulai Jabatan | Akhir Jabatan | Catatan | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Fatmawati Soekarno | 1 Juni 1943 | Soekarno | 17 Agustus 1945 | 12 Maret 1967 | Ibu Negara RI Pertama | |
| 2 | Tien Soeharto | 26 Desember 1947 | Soeharto | 12 Maret 1967 | 28 April 1996 | Ibu Negara Indonesia yang paling lama menjabat Ibu Negara Indonesia pertama yang meninggal pada saat suaminya masih menjabat |
|
| 3 | Hasri Ainun Habibie | 12 Mei 1962 | Bacharuddin Jusuf Habibie | 21 Mei 1998 | 20 Oktober 1999 | Ibu Negara Indonesia yang masa jabatannya paling singkat | |
| 4 | Sinta Wahid | 11 September 1971 | Abdurrahman Wahid | 20 Oktober 1999 | 23 Juli 2001 | ||
| 5 | Taufiq Kiemas | 1973 | Megawati Soekarno Putri | 23 Juli 2001 | 20 Oktober 2004 | Suami presiden | |
| 6 | Ani Bambang Yudhoyono | 30 Juli 1976 | Susilo Bambang Yudhoyono | 20 Oktober 2004 | sekarang | ||
Jumat, 25 April 2014
Daftar Ibu dan Bapak Negara RI
Minggu, 01 Desember 2013
Daftar Ka Kwarnas Pramuka Indonesia
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kwartir_Nasional
Kwartir Nasional (Kwarnas) adalah satuan organisasi yang mengelola Gerakan Pramuka Nasional. Berdasarkan tingkatan/wilayahnya, Kwarnas berkedudukan di ibukota Negara, Jakarta. Pengurus Kwarnas diketuai oleh Ketua Kwarnas (disingkat Ka Kwarnas). Kantor Kwarnas Gerakan Pramuka Indonesia berlokasi di Gedung Kwarnas Pramuka; Jalan Medan Merdeka Timur no.6; Jakarta 10110, Indonesia; Telp. +62 – 21 – 3507645; Fax. +62-21-3507647.
Kwartir Nasional (Kwarnas) adalah satuan organisasi yang mengelola Gerakan Pramuka Nasional. Berdasarkan tingkatan/wilayahnya, Kwarnas berkedudukan di ibukota Negara, Jakarta. Pengurus Kwarnas diketuai oleh Ketua Kwarnas (disingkat Ka Kwarnas). Kantor Kwarnas Gerakan Pramuka Indonesia berlokasi di Gedung Kwarnas Pramuka; Jalan Medan Merdeka Timur no.6; Jakarta 10110, Indonesia; Telp. +62 – 21 – 3507645; Fax. +62-21-3507647.
| No | Tahun | Nama | Foto |
|---|---|---|---|
| 1 | 1961-1974 | Sri Sultan Hamengkubuwono IX | |
| 2 | 1974-1978 | Letjen. Sarbini | |
| 3 | 1978-1993 | Letjen. Mashudi | |
| 4 | 1993- 1998 | Letjen. Himawan Soetanto | |
| 5 | 1998 - 2003 | Letjen. Rivai Harahap | |
| 6 | 2003 - 2013 | Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH | |
| 7 | 2013-2018 | Adhyaksa Dault |
Rabu, 12 Juni 2013
AUTO BIOGRAFIKU
Nama Panggilan :
Putra, Vian, NB
TTL : Yogyakarta, 9 November 1997
Nama Orang Tua :
Aiptu Bambang Eko Priyanto
Nur Handayani
Nur Handayani
Pendidikan : TK
Aba Kauman di Yogyakarta
SD Muhammadiyah Suronatan di Yogyakarta
SMP Negeri 8 di Yogyakarta
SMA Negeri 9 di Yogyakarta
SD Muhammadiyah Suronatan di Yogyakarta
SMP Negeri 8 di Yogyakarta
SMA Negeri 9 di Yogyakarta
Karier :
Kelas 2 :
-Ketua Kelas (2005-2006)
Kelas 3 :
-Ketua Kelas (2006-2007)
Kelas 4 :
-Ketua Kelas (2007-2008)
Kelas 2 :
-Ketua Kelas (2005-2006)
Kelas 3 :
-Ketua Kelas (2006-2007)
Kelas 4 :
-Ketua Kelas (2007-2008)
-Ketua Regu di HW (2007-2008)
-Wakil Ketua Regu di Tapak Suci (2007-2008)
Kelas 5 :
-Ketua Kelas (2008-2009)
-Wakil Ketua Regu di Tapak Suci (2007-2008)
Kelas 5 :
-Ketua Kelas (2008-2009)
-Ketua Regu di HW (2008-2009)
Kelas 6 :
-Wakil Ketua Kelas (2009-20010)
Kelas 6 :
-Wakil Ketua Kelas (2009-20010)
-Penasihat Regu di HW (2009-2010)
Kelas 7 :
-Ketua Kelas (2010-2011)
Kelas 7 :
-Ketua Kelas (2010-2011)
-Pinru di Pramuka
(2010-2011)
-Pratama Pasukan di
Pramuka (2010-2011)
-WaPrat(sem) di Pramuka
Gugus Depan 03065 (2011-2012)
-SekBid Keamanan di 8 JHS Trip to
Bali (2011)
Kelas 8 :
-Panitia Pembinaan MOPDB di Sekolah (2011)
Kelas 8 :
-Panitia Pembinaan MOPDB di Sekolah (2011)
-7K SekBid Keindahan di Kelas
(2011-2012)
-MPK Koor. SekBid Kesegaran Jasmani
dan Daya Kreasi di Sekolah (2011-2012)
-WaPrat(sem)
di Pramuka Gudep 03065 (2011-2012)
-Ketua Panitia Dianpinru di Pangkalan (2011)
-CaPrat di Pramuka Gudep
03065 (2011)
-Pratama di Pramuka
Gudep 03065 (2011-2012)
-Pj Pelaksanaan
KG 2012 di Pangkalan (2012)
-Panitia Kegiatan Keagamaan di
Sekolah (2012)
-Panitia Classmeeting di Sekolah (2012)
Kelas 9 :
-Pratama di Pramuka Gudep 03065 (2011-2012)
-MPK Koor. SekBid Kesegaran Jasmani dan Daya Kreasi di Sekolah (2011-2012)
Kelas 9 :
-Pratama di Pramuka Gudep 03065 (2011-2012)
-MPK Koor. SekBid Kesegaran Jasmani dan Daya Kreasi di Sekolah (2011-2012)
-7K SekBid Ketertiban di Kelas
(2012-2013)
-Ketua Panitia Haflah Khatmil Qur’an di
Sekolah (2012)
Kelas 10:
-Bendahara 2 Kelas (2013)
-Pj kegiatan angkatan (2013)
-Ketua Pelaksana MPK (2013-2014)
-Anggota Rohis bagian Syi'ar (2013-2014)
-Ketua KIR di Sekolah (2013-2014)
-Ketua Tabligh Akbar di Seolah (2013-2014)
-Anggota Pramuka Peduli Kwarcab 1205 Yogyakarta (2014-...)
-Ketua Kelompok Jelajah Budaya ke-6 Kwarda IX DIY(2014)
Kelas 10:
-Bendahara 2 Kelas (2013)
-Pj kegiatan angkatan (2013)
-Ketua Pelaksana MPK (2013-2014)
-Anggota Rohis bagian Syi'ar (2013-2014)
-Ketua KIR di Sekolah (2013-2014)
-Ketua Tabligh Akbar di Seolah (2013-2014)
-Anggota Pramuka Peduli Kwarcab 1205 Yogyakarta (2014-...)
-Ketua Kelompok Jelajah Budaya ke-6 Kwarda IX DIY(2014)
Penghargaan :
Kelas 7 :
-Pratama Pasukan Terbaik di Pramuka Gudep 03065 (2011)
-Lencana Bintang Tahunan tingkat 1 (2011)
Kelas 8 :
-Tiska PDT XL rute Pangsar Jend. Sudirman (2011)
-Lencana Bintang Tahunan tingkat 2 (2012)
Kelas 9 :
-Pramuka Garuda tingkat Penggalang (2012)
Kelas 10 :
-Finalis Duta PIK-R di Kota (2013)
-Anggota MPK berdedikasi (2013)
Kelas 7 :
-Pratama Pasukan Terbaik di Pramuka Gudep 03065 (2011)
-Lencana Bintang Tahunan tingkat 1 (2011)
Kelas 8 :
-Tiska PDT XL rute Pangsar Jend. Sudirman (2011)
-Lencana Bintang Tahunan tingkat 2 (2012)
Kelas 9 :
-Pramuka Garuda tingkat Penggalang (2012)
Kelas 10 :
-Finalis Duta PIK-R di Kota (2013)
-Anggota MPK berdedikasi (2013)
Jumat, 08 Maret 2013
Kode Kehormatan Pramuka Penggalang
K
|
ode
kehormatan atau kode moral atau janji seorang penggalang adalah Trisatya dan
Dasa Dharma. Kedua kode kehormatan seorang pramuka penggalang ini untuk
membentuk pribadi yang lebih baik untuk mempersiapkan diri sebagai penerus
cita-cita bangsa. Apa isi dari kedua kode kehormatan dan maksud yang tercantum
di dalamnya? Berikut pembahasan lebih lanjut:
Tri Satya
Demi kehormatanku aku
berjanji akan bersungguh-sungguh
v Menjalankan
kewjibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
mengamalkan Pancasila.
Jadi,
seorang pramuka penggalang pada khususnya harus menjalankan kewajibanya sebagai
hamba Allah yang beriman dan menjalankan kewajibanya sebagai seorang pelajar
dan mengamalkan makna yang terkandung dari Pancasila.
v Menolong
sesame hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat.
Jadi, seorang pramuka harus saling
menolong kepada semua makhluk hidup bilamana sedang kesusahan dan mempersiapkan
diri dengan kegiatan pramuka yang ada untuk membangun masyarakat mendatang.
v Menepati
Dasa Dharma.
Akan kita bahas selengkapnya di kode kehormatan
seorang pramuka penggalang berikut ini.
Dasa
Dharma Pramuka
Pramuka itu:
1.
Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jadi,
selain kita dituntut untuk keparamukaan kita juga harus selalu ingat kepada
Sang Pencipta agar dimudahkan dalam memahami ilmu yang kita pelajari.
2.
Cinta alam dan kasih sayang sesama
manusia.
Jadi,
kita harus menjaga lingkungan agar tetap terjaga bersih dan asri serta kita harus
menyanyangi manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
3.
Patriot yang sopan dan kesatria.
Jadi,
walaupun jiwa kita seorang patriot tetapi kita tetap harus sopan dan santun dan
seorang kesatria itu tidak hanya menang di medan perang tetapi orang yang dapat
mengalahkan hawa napsu dan sudah mengakui kekurangannya juga dapat disebut
seorang kesatria hebat.
4.
Patuh dan suka bermusyawarah.
Jadi,
kita sebagai seorang pramuka diwajibkan untuk patuh dalam semua peraturan hidup
seorang hamba Allah maupun seorang WNI serta hormati juga hasil musyawarah yang mufakat sebelum mengambil keputusan
kecuali dengan keadaan yang mendesak.
5.
Rela menolong dan tabah.
Jadi,
bilamana ada orang yang kesusahan hendaklah kita tolong akan tetapi dalam
konteks kebajikan dan selalu tabah akan segala cobaan yang diberikan Allah kepada
kita.
6.
Rajin, Trampil, dan gembira.
Jadi,
“rajin pangkal pandai” adalah kata pepatah yang harus kita ikuti agar
mendapatkan kesuksesan kedepannya dan kita dituntut untuk trampin mengatasi segala
masalah dengan cepat dan tepat dan bergembira dalam setiap usaha yang dirinya
sendiri lakukan maupun orang lain lakukan.
7.
Hemat, cermat, dan bersahaja.
Jadi,
hemat dapat menyangkup banyak hal dari hemat uang, hemat waktu, hemat barang,
dan lain sebagainy sedangkan cermat, kita dituntut untuk tidak ceroboh dalam
melakukan pekerjaan yang akhirnya merugikan bagi banyak orang dan bersahaja
berarti seorang pramuka tidak membutuhkan kemewahan akan tetapi kesederhanaan
yang bermakna.
8.
Disiplin, berani, dan setia.
Jadi,
orang sukses juga berawak dari kedisiplinan dalam segala hal termasuk belajar,
berani di sini adalah berani seperti saat kita ditunjuk sebagai pemimpin
upacara dan berani mengambil resiko kecil untuk kebaikan ke depan serta setia dengan instansinya yaitu Pramuka
dan SMP N 8 Yogyakarta.
9.
Bertanggungjawab dan dapat
dipercaya.
Jadi,
bila kita diberikan kepercayaan mengemban jabatan brarti kita siap untuk
dimintai pertanggungjawabannya selama kita memimpin, tidak hanya memimpin saja tetapi
bila kita diberi kepercayaan oleh orang tua sebagai pelajar brarti kita akan
dimintai pertanggungjawabannya selama kita belajar di SMP N 8 Yogyakarta ini.
10.
Suci dalam pikiran, perkataan dan
perbuatan.
Jadi,
sebagai seorang pramuka dan pelajar yang bermoral sudah sepantanya kita menjaga
pikiran, perkataan serta perbuatan kita.
Kedua kode kehormatan pramuka
penggalang tersebut apabila kita pelajari dan kita amalkan saya yakin kita akan
menjadi manusia yang diharapkan oleh visi misi daripada sekolah tercinta ini
bahkan kita akan dinantikan kepemimpinanya di negara ini.
Gerakan Pramuka
G
|
erakan Praja Muda Karana adalah kepanjangan dari Gerakan
Pramuka mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kaum muda guna menumbuh kembangkan
tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik yang sanggup bertanggungjawab
dan mampu membina serta mengisi kemerdekaan dengan hal positif. Salah satu
wadah pembinaan dalam Gerakan Pramuka adalah Satuan Karya Pramuka yang sering
disingkat SAKA, dimana dalam kegiatan-kegiatan SAKA dilaksanakan untuk menyalurkan
minat, menyembangkan bakat dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan
dan pengalaman pramuka serta upaya meningkatkan motivasi untuk melaksanakan
kegiatan nyata dimasyarakat sesuai dengan aspirasi dan tuntutan perkembangan
jaman.
“Gerakan Pramuka
sebagai wadah pilihan utama dan solusi handal masalah-masalah kaum muda" adalah visi dari Gerakan
Pramuka sedangkan untuk misinya adalah:
1. Mempramukakan kaum muda. Maksudnya dengan mempramukakan tidak berarti bahwa seluruh kaum muda itu dimasukkan sebagai anggota Gerakan Pramuka tetapi lebih pada tataran jiwa dan prilaku kaum muda yang sesuai dengan jiwa dan prilaku Pramuka sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
2.
Membina anggota yang berjiwa dan berwatak Pramuka, berlandaskan iman dan taqwa
(IMTAQ) serta selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Bahwa semua sendi program pendidikan yang dilaksanakan
Gerakan Pramuka harus dilandaskan pada iman dan taqwa dan selalu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga apapun yang dilakukan
perlu mengikuti perkembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan pada eranya.
3.
Membentuk kader bangsa patriot pembangunan yang memiliki jiwa bela negara. Gerakan pramuka memiliki salah satu tugas yakni menyiapkan kader
bangsa sehingga diperlukan adanya pendidikan yang khusus. Untuk itu, karena
disadari bahwa perlunya pendidikan bela negara sebagai bagian dari kebutuhan
bangsa dan negara.
4.
Menggerakkan anggota dan organisasi Gerakan Pramuka agar peduli dan tanggap
terhadap masalah-masalah kemasyarakatan. Hal
ini dilakukan untuk memantapkan jati diri Gerakan Pramuka melalui kode
kehormatannya dan sekaligus sebagai pencerminan anggota Pramuka yang tanggap
terhadap permasalahan yang ada pada lingkungan sekitarnya.
Gerakan
Pramuka merupakan bagian terpadu proses pendidikan untuk mengingatkan setiap
anggota Gerakan Pramuka bahwa setiap megikuti kegiatan berarti
mempersiapkan diri untuk mengamalkan kode kehormatan Pramuka. Gerakan Pramuka
memiliki motto yaitu “SATYAKU KUDARMAKAN
DARMAKU KUBAKTIKAN “.
Sabtu, 26 Januari 2013
Inspiratorku 3
Sri Sultan Hamengkubuwono IX Lahir di Yogyakarta 12
April 1912 dengan nama Bendoro Raden Mas Dorodjatun di Ngasem, Ia adalah
salah seorang Sultan yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta
(1940-1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah
kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden
Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Ia juga dikenal sebagai
Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir
Nasional Gerakan Pramuka. Hamengkubuwana IX adalah putra dari Sri Sultan
Hamengkubuwana VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Di umur 4 tahun
Hamengkubuwana IX tinggal pisah dari keluarganya.
Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda ("Sultan Henkie"). Hamengkubuwana IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga". Ia merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat "Istimewa". Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi Yogyakarta. Di masa Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Paku Alam IX adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan pulalah yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I.
Peranan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh TNI masih tidak singkron dengan versi Soeharto. Menurut Sultan, beliaulah yang melihat semangat juang rakyat melemah dan menganjurkan serangan umum. Sedangkan menurut Pak Harto, beliau baru bertemu Sultan malah setelah penyerahan kedaulatan. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.
Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.
2 Oktober 1988, ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia. Sultan Hamengku Buwana IX tercatat sebagai Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia antara 1945-1988 dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama antara 1940-1988.
Itu adalah secuit dari sekian banyak kisah kebajikan dari seorang Ngarso Dalem IX
Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda ("Sultan Henkie"). Hamengkubuwana IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga". Ia merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat "Istimewa". Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi Yogyakarta. Di masa Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Paku Alam IX adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan pulalah yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I.
Peranan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh TNI masih tidak singkron dengan versi Soeharto. Menurut Sultan, beliaulah yang melihat semangat juang rakyat melemah dan menganjurkan serangan umum. Sedangkan menurut Pak Harto, beliau baru bertemu Sultan malah setelah penyerahan kedaulatan. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.
Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.
2 Oktober 1988, ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia. Sultan Hamengku Buwana IX tercatat sebagai Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia antara 1945-1988 dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama antara 1940-1988.
Itu adalah secuit dari sekian banyak kisah kebajikan dari seorang Ngarso Dalem IX
Brigadir Tilang Ngarsa Dalem IX
Kota batik Pekalongan
di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis, pukul
setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu
mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir
polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya.
Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.
Becak dan delman amat dominan masa itu,
persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk
angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir.
Dari arah selatan dan membelok ke barat
sebuah sedan hitam berplat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan
arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan,
sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya.
Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi
posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan
puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima
puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti
dihadapannya.
Saat mobil menepi, brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.
“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!”
Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki
di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes
Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.
“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu. “Ya Allah … sinuwun!”
kejutnya dalam hati . Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung
sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap
sempurna.
“Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Dirinya tak habis pikir, orang sebesar
sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang
jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya kemana.
Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin
mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di
ujung jalan, namun sultan menolak.
“ Ya .. saya salah, kamu benar, saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.
“ Jadi …?” Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya .
“Em .. emm .. bapak saya tilang, mohon maaf!”
Brigadir Royadin heran, sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya
untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu, mengenalkan
dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.
“Baik .. brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang.
Dengan tangan bergetar ia membuatkan
surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu
kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan
yang terjadi di depan hidungnya.
Yang paling membuatnya sedikit tenang
adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan
bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.
Surat tilang berpindah tangan, rebuwes
saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum
sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.
Beberapa menit sinuwun melintas di depan
stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya
dan segala macam pikiran berkecamuk.
Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar
Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan
ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun
berhasil menghibur dirinya.
Saat aplusan di sore hari dan kembali ke
markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum
lebih lanjut, Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.
Saat apel pagi esok harinya , suara
amarah meledak di markas polisi pekalongan, nama Royadin diteriakkan
berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh
menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala
kantor.
“Royadin, apa yang kamu lakukan .. sa’enake dewe .. ora mikir .. iki sing mbok tangkep sopo heh .. ngawur .. ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa, ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.
“Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu
tidak lepas saja sinuwun .. biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia,
ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.
“Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa, beliau ngaku salah .. dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.
“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti
siapa dia .. ojo kaku kaku, kok malah mbok tilang .. ngawur .. jangan
ngawur …. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.
Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia
lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk
menegakkan peraturan pada siapa saja .. memang Koppeg(keras kepala)
kedengarannya.
Kepala polisi pekalongan berusaha mencari
tahu dimana gerangan sinuwun, masih di Tegalkah atau tempat lain?
Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes.
Namun tidak seperti saat ini yang
demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaa sinuwun tak kunjung
diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi pekalongan
mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa
mengikut sertakan Brigadir Royadin.
Usai mendapat marah, Brigadir Royadin
bertugas seperti biasa, satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak
teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya
akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.
Suatu sore, saat belum habis jam dinas,
seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya
untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi
menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar
surat.
“Royadin …. minggu depan kamu diminta pindah !”
lemas tubuh Royadin , ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak
dipinggir kota pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena
ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .
“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.
“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan, ini hanya merepotkan diri saja.
“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.
“Ngawur … Kamu sanggup bersepeda
pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang
minta kamu pindah tugas kesana, pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris, disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.
Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta
akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan
meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Tangan brigadir Royadin bergetar, namun
ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang
besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh
hidupnya di kota pekalongan. Ia cinta pekalongan dan tak ingin
meninggalkan kota ini .
“Mohon bapak sampaikan ke sinuwun,
saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan, ini tanah
kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau, dan
sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !”
Brigadir Royadin bergetar, ia tak
memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX, Amarah hanya
diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang
dari orang yang menjadi korban ketegasannya.
July 2010 kepergian purnawirawan polisi
Royadin kepada sang khalik. Suaranya yang lirih saat mendekati akhir
hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak
family yang berkumpul.
Idealismenya di kepolisian Pekalongan
tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya, pangkatnya tak banyak bergeser
terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan
dan kejujuran.
Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin,
Sang Polisi sejati. Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan
Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari
sabang sampai merauke.
Andai sekarang masih ada sosok Pak Royadin yang begitu tegas dan disiplinnya, pasti akan membawa Kepolisian Negara Republik Indonesia yang lebih baik lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)







.jpg)



